Breaking

Poltekkes Kemenkes Semarang Bekali Pasangan Usia Muda di Kendal Soal Kontrasepsi, Ini Tujuannya

YO
Jumat, 14 Agustus 2026
Poltekkes Kemenkes Semarang Bekali Pasangan Usia Muda di Kendal Soal Kontrasepsi, Ini Tujuannya
Tim pengabdian masyarakat Poltekkes Kemenkes Semarang memberikan edukasi perencanaan kehamilan dan kontrasepsi kepada pasangan usia muda di Kelurahan Bandengan, Kendal, Jumat (7/8/2026).

KENDAL — Perempuan yang menikah di usia muda rentan menghadapi kehamilan tidak direncanakan. Kondisi ini yang mendorong tim pengabdian masyarakat Poltekkes Kemenkes Semarang turun ke Kelurahan Bandengan untuk memberikan edukasi perencanaan kehamilan dan penggunaan alat kontrasepsi yang tepat, Jumat (7/8/2026).

Ketua tim pengabdian, Khobibah, menjelaskan bahwa rendahnya pemakaian kontrasepsi pada pasangan muda menjadi pintu masuk berbagai persoalan kesehatan reproduksi. Jarak kehamilan yang terlalu dekat dengan kelahiran sebelumnya juga disebutnya sebagai faktor peningkat risiko komplikasi.

Risiko Kesehatan di Balik Pernikahan Dini

Khobibah menekankan bahwa kehamilan pada perempuan yang menikah dini tidak bisa disamakan dengan kehamilan pada usia reproduksi sehat. Risiko kesakitan dan kematian ibu maupun bayi, kecacatan pada bayi, hingga gangguan tumbuh kembang anak disebutnya jauh lebih tinggi.

“Jarak kehamilan yang terlalu dekat dapat meningkatkan risiko terjadinya komplikasi selama kehamilan. Karena itu, perencanaan kehamilan dan pengaturan jarak kehamilan penting untuk diperhatikan,” ujar Khobibah dalam keterangan tertulisnya, Kamis (13/8/2026).

Edukasi Metode Kontrasepsi untuk Keputusan Sadar

Materi yang disampaikan kepada para peserta mencakup jenis, manfaat, efektivitas, hingga pilihan metode kontrasepsi. Harapannya, pasangan muda tidak sekadar tahu, tetapi mampu menentukan metode yang sesuai kondisi dan kebutuhan mereka secara sadar.

“Pasangan perlu memiliki pengetahuan yang cukup mengenai kontrasepsi agar dapat menentukan metode yang sesuai dengan kondisi dan kebutuhannya, sehingga kehamilan bisa direncanakan dan jaraknya dapat diatur dengan lebih baik,” katanya.

Selain Khobibah, kegiatan ini melibatkan Septalia Isharyanti, Dr. Budi Astyandini, dan Anissa Nurlia Kusumaningtyas sebagai anggota tim.

Bagian dari Upaya Cegah Stunting

Edukasi ini merupakan langkah promotif dan preventif untuk memperbaiki kesehatan reproduksi perempuan. Kehamilan yang direncanakan memberi ruang bagi ibu mempersiapkan kondisi fisik dan gizi sebelum serta selama kehamilan.

Dengan begitu, kualitas janin yang dikandung lebih terjaga dan risiko stunting pada anak dapat ditekan sejak awal. Program ini menjadi salah satu intervensi hulu dalam menekan angka pernikahan dini yang masih menjadi tantangan di Jawa Tengah.

Sumber: joglojateng.com

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua