DPRD Jateng Dorong Program Revolusi Lahan di Banjarnegara Jadi Contoh 35 Kabupaten, Target Tekan Kemiskinan
BANJARNEGARA — Lahan seluas kurang lebih 10 hektare di Desa Susukan, Kecamatan Wanayasa, Kabupaten Banjarnegara, tidak lagi dibiarkan kosong. Kawasan itu kini disulap menjadi lokasi percontohan program Revolusi Lahan (Revola) Jateng Optimis yang memadukan budi daya kopi, alpukat, padi, hortikultura, hingga peternakan ayam dan kambing.
Anggota DPRD Jawa Tengah, Setya, menilai model pengelolaan lahan terpadu ini mampu menjadi solusi nyata dalam mengentaskan kemiskinan di daerah. Ia mendorong agar skema serupa segera diduplikasi oleh pemerintah kabupaten dan kota lain di provinsi tersebut.
"Alhamdulillah kami dari DPRD bisa membersamai Pak Gubernur untuk menghadiri peresmian Revolusi Lahan di Kabupaten Banjarnegara. Ada beberapa hal yang mungkin perlu nanti kita dorong agar bisa diduplikasi di seluruh Kabupaten/Kota yang ada di Jawa Tengah," tegas Setya dalam keterangannya, Sabtu (15/8/2026).
Integrasi Pertanian-Peternakan untuk Percepatan Pengentasan Kemiskinan
Menurut Setya, kekuatan ekonomi kerakyatan dari sentra produksi pangan dan ternak akan berdampak maksimal jika diintegrasikan langsung dengan optimalisasi lahan. Konsep pertanian dan peternakan terpadu dinilai tepat untuk menjaga ketersediaan pangan sekaligus meningkatkan pendapatan warga.
"Karena ini adalah salah satu upaya kita untuk memberikan pemberdayaan ekonomi kepada seluruh masyarakat, khususnya bagi masyarakat petani. Karena ini adalah integrasi antara pertanian, peternakan, perkebunan, dan juga perikanan. Kita harapkan dengan adanya pola-pola seperti ini dapat menjadi langkah percepatan penanganan dan pengurangan kemiskinan," imbuhnya.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat produksi padi Jawa Tengah pada 2024 mencapai 8,89 juta ton Gabah Kering Giling (GKG). Angka tersebut mengukuhkan posisi Jateng sebagai lumbung pangan dan produsen padi terbesar kedua di Indonesia.
Petani Muda dan Teknologi Drone Jadi Kunci Modernisasi
Pengelolaan kawasan Revola di Banjarnegara tidak diserahkan kepada petani konvensional. Para petani muda yang telah memanfaatkan teknologi pertanian modern, seperti pesawat tanpa awak (drone) dan mesin penyiram otomatis, diberi tanggung jawab penuh atas lahan tersebut.
Setya mengungkapkan penggunaan alat bantu tersebut terbukti membuat pekerjaan petani lebih cepat dan hemat tenaga. Ia menilai keterlibatan generasi muda dengan dukungan teknologi membuktikan sektor pertanian bisa dikelola dengan cara yang lebih maju sekaligus menjadi solusi menekan angka pengangguran di desa.
Selain sebagai lahan produktif, penanaman pohon alpukat dan kopi di kawasan ini juga difungsikan sebagai tanaman penahan erosi tanah. Langkah tersebut menjadikan program ini tidak hanya berdampak pada ekonomi, tetapi juga kelestarian lingkungan sekitar.
"Jika seluruh daerah bisa memanfaatkan lahan kosong mereka seperti di Banjarnegara, kita akan memiliki ketahanan pangan yang kuat di Jawa Tengah. Harapannya, kesejahteraan masyarakat desa juga akan semakin merata," tutup Setya.