1.000 Resep Nusantara di Festival Mustika Rasa Jadi Benteng Lawan Pangan Impor
NAVIGASI.CO.ID — Festival Mustika Rasa hadir sebagai gerakan kebudayaan yang menegaskan bahwa lidah dan perut rakyat Indonesia tidak seharusnya bergantung pada makanan impor. Mengangkat buku resep legendaris peninggalan Soekarno, acara ini mencoba membuktikan bahwa bahan pangan lokal bisa menjadi tuan rumah di negeri sendiri.
Warisan 1.000 Resep dari Sabang sampai Merauke
Buku Mustika Rasa bukan sekadar kumpulan resep masakan. Ketua DPP PDIP Bidang Pariwisata, Wiryanti Sukamdani, menyebut buku ini memuat lebih dari 1.000 resep yang mencakup kandungan gizi, teknik pemotongan bahan, hingga peralatan tradisional.
"Tema kita dalam festival ini sangat tegas, 'perut dan lidah rakyat Indonesia tidak boleh terjajah dengan makanan impor.' Maknanya, kita harus berdiri di atas kaki kita sendiri, standing on our own feet," ujarnya, Jumat (28/8/2026) malam.
Wiryanti mencontohkan kekayaan pangan lokal yang selama ini sudah mendarah daging di Yogyakarta. Gudeg, angkringan sego kucing, sego berkat, hingga jadah tempe adalah bukti bahwa masyarakat kota budaya ini mampu menciptakan masakan lezat tanpa bahan impor.
Tempe Lokal Vs Kedelai Impor
Ia bahkan menyoroti soal tempe yang menjadi ikon pangan fermentasi Indonesia. Menurutnya, tempe yang berbahan kedelai lokal punya cita rasa yang jauh lebih gurih dibanding versi impor.
"Apalagi kalau mau bikin tempe bungkus daun, pakai bahan impor malah tidak akan jadi. Kita punya banyak alternatif karbohidrat, ada ubi, singkong, hingga sorgum," urai Wiryanti.
Pernyataan ini menegaskan bahwa Indonesia sebenarnya punya banyak pilihan pangan pokok selain beras dan terigu yang selama ini mendominasi.
UMKM Naik Kelas dan Stunting Jadi Perhatian
Wali Kota Yogyakarta sekaligus Ketua Festival Mustika Rasa 2026, Hasto Wardoyo, melihat festival ini sebagai ruang untuk membumikan resep-resep kuno ke kehidupan sehari-hari. Sebanyak 100 stan UMKM disiapkan untuk menjajakan hidangan tradisional khas DIY-Jawa Tengah hingga kuliner langka Nusantara.
"Ketika UMKM diberikan ruang untuk berjualan dan didatangkan pengunjung, harapannya produk mereka semakin dikenal, penjualan meningkat, dan UMKM bisa naik kelas," katanya.
Hasto juga mengaitkan resep-resep Mustika Rasa dengan upaya pencegahan stunting. Menurutnya, hidangan tradisional Nusantara sebenarnya sudah mencerminkan gizi seimbang—ada karbohidrat, protein dari telur dan ikan, serta bahan lokal lain.
"Jangan hanya bicara teori, resep ini harus kita praktikkan langsung untuk mengatasi stunting," tegas Hasto.
Festival yang berlangsung dua hari ini tidak hanya menyajikan makanan, tetapi juga produk fesyen dan kerajinan lokal. Harapannya, gelaran ini menjadi pengingat bahwa kedaulatan pangan bisa dimulai dari meja makan sendiri.